Pemuda dlm islam…. ust. Budi ashari

SELASA, (25/12/2012), Ustadz Budi Ashari dan Tim Parenting Nabawiyah melaksanakan Bedah Buku ‘Antara Pemuda Hijaz Dan Remaja Amerika’. Acara ini berlangsung di Aula Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar Indonesia.

Dalam buku ini dipaparkan penjelasan Islam mengenai masa baligh. Islam ternyata tidak mengenal istilah remaja, tapi Islam menyebut usia belasan tahun melewati masa baligh itu sebagai pemuda (syabab). Ia pun menyitir surah Ar Rum ayat 54: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”

“Jadi usia muda adalah kekuatan di antara dua kelemahan. Kelemahan pertama adalah kelemahan usia kanak-kanak yang masih lemah secara fisik, ilmu, dan pengalaman. Kelemahan kedua adalah usia tua yang juga lemah secara fisik, semangat, tenaga, dan kemampuan,” tegasnya menunjukkan bahwa usia muda dekat dengan kekuatan bukan kelabilan.

Karena itu jika dibandingkan antara konsep Psikologi Barat dan Al Qur’an, maka akan sangat terlihat bagaimana perbedaan antar keduanya memandang usia muda.

“Di Barat Remaja cenderung diartikan dengan penuh kelabilan dan emosional, padahal pemuda menempati posisi istimewa di Al Qur’an,” katanya.

Alumni Universitas Islam Madinah ini pun membeberkan ayat-ayat tentang usia muda dalam Al Qur’an.  Dari pengkajiannya, ternyata pemuda dalam Al Qur’an digambarkan sebagai sosok matang, bertauhid, berkata tidak kepada kemaksiatan, sekaligus sosok yang melawan kezhaliman.

“Kita lihat Al Qur’an menceritakan pemuda bernama Ibrahim, Ashabul Kahfi, Dawud yang menghancurkan kezaliman, Yusuf yang berkata tidak kepada kemaksiatan, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Penelitian yang dilakukan DR. Khalid Ahmad Asy Syantut terhadap 50 keluarga muslim di Mekkah dan Madinah (Wilayah Hijaz) pun menjelaskan bahwa gambaran usia muda tidak seperti dibangun seperti dalam konsep Barat.

Penelitian itu menunjukkan 84% anak-anak mereka tidak membangkan terhadap keluarga. 60% memandang bahwa usia remaja/pubertas bukanlah masalah yang mesti terjadi berupa keguncangan dan kenakalan.

“Orangtua pun juga tidak menyaksikan hal tersebut terjadi pada anak mereka,” terangnya. (Pz/islampos)

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s