Sejarah dan keluarga,pilar penting peradaban

Budi Ashari: Sejarah dan Keluarga, Pilar Penting Peradaban
Berita Utama DakwahThursday, 26 March 2015 Oleh Tristia Riskawati
Ustadz Budi Ashari. (Foto: Tristia R.)
Ustadz Budi Ashari. (Foto: Tristia R.)

Masa lalu bagai etalase. Dengan senang hati ia memajang kisah mengesankan dari sebuah kehidupan. Namun, ia juga tak segan memajang kisah mengenaskan. Baik buruk masa lalu, keduanya memiliki manfaat sungguh besar untuk merencanakan masa depan. Bagi  pengisi acara Khalifah Trans7, Ustadz Budi Ashari, Lc., itulah ruh dari Surat Al-Hasyr ayat 18.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
“Oleh Alquran, kita disuruh untuk meninjau masa lalu. Baik itu masa lalu kita, masa lalu umat, atau masa lalu bangsa. Masa lalu memiliki manfaat untuk membangun peradaban masa depan,” ujar Budi Ashari selepas mengisi Pengajian Sabtu Dhuha “Sejarah Sebagai Pilar Peradaban”, Sabtu (21/3) di Ruang Front Office Masjid Salman ITB.

Sejarah, Budi akui, merupakan subjek yang tidak populer. Di sekolah, Sejarah hanya menjadi pelajaran tambahan di antara mata pelajaran raksasa lainnya semisal Matematika dan Ilmu Alam. Bahkan, anak-anak jurusan Sejarah juga bisa jadi kebingungan akan spesialisasi yang mereka punya.

“Jadinya mereka bertanya akan kerja apa… masa kerjanya ngomongin masa lalu..”

Padahal, Budi berpendapat peradaban umat manusia akan maju jika mengacu pada sejarah. Sejarah akan berulang, termasuk kisah-kisah sejarah yang menempati sepertiga Alquran. Peradaban ditopang oleh pembentukan sistem ilmu-ilmu seperti bahasa Arab, hadits, teknologi, dan lain sebagainya. “Sejarah melengkapi pembentukan sistem itu.”

Budi juga mengkritik berbagai upaya islamisasi-islamisasi yang tak menawarkan konsep utuh dari sistem peradaban. Ia pun menaruh harapan kepada Masjid Salman ITB agar dapat membangun konsep peradaban yang utuh. “Harus ada tim khusus yang dikader oleh Salman. Lalu dibentuk kelompok-kelompok anak muda sesuai dengan peminatan, kecenderungan, dan kemampuan mereka,” lanjut Bapak dari empat anak ini.

Sebagai pendiri sekolah Kuttab Al-Fatih dan Parenting Nabawiyah, Budi mengingatkan jika keluarga adalah pilar penting dalam sebuah peradaban. Keluarga, harus dituntun untuk mendekat ke panduan wahyu. Bahkan, sebelum bicara aspek-aspek lain peradaban, Budi sarankan untuk bicara tentang keluarga dulu!

“Perhatikan Surat Al Furqan ayat 74. Itu kan doa tentang keluarga,” ujar Budi. “Selain berdoa dianugerahi keluarga yang menyejukkan mata, di ujungnya terselip visi besar dari sebuah keluarga: pemimpin orang-orang bertakwa.”

Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga. Pemimpin-pemimpin yang hebat terlahir dari keluarga. Budi mencontohkan satu tradisi yang ia biasa lakukan bersama istri dan empat orang anaknya.

“Ketika mereka berbeda pendapat, kita adakan musyawarah. Saya kenalkan bagaimana syuro yang benar dalam Islam, karena mereka calon pemimpin besar negeri ini!” ucap Budi yakin.***

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s