Belajar harus menyenangkan …

BELAJAR HARUS “MENYENANGKAN”
Diposkan Oleh:admin 0 Komentar

Belajar harus “menyenangkan”, kapan pertama kali manusia mendengar kalimat ini? Kini Ia menjadi ‘rumus’ utama dalam belajar. Lalu menjadi salah satu “fokus” yang menyerap energi dan waktu yang besar agar belajar jadi menyenangkan. Bahkan ia menjadi prasyarat belajar di kelas. Coba bertanya sekali-kali, itu perkataan siapa? Darimana asal-muasal cara berpikirnya? Tentu setiap perkataan dan pendapat manusia ada kemungkinan benar dan salah. Kita dapat menentukan pilihan sesuai apa yang diyakini kebenaran, kebaikan dan kebutuhannya (prioritasnya).

Beberapa teori dan definisi belajar tergantung pada aspek stimulus dan respon. Ada yang mengaitkan dorongan belajar dengan kehendak biologis. Hal ini berorientasi pada pengalaman yang bersifat empirik (dapat diamati dan diukur). Sehingga lahirlah beberapa metode, cara dan strategi belajar yang banyak dan terus berkembang agar pelajaran yang disampaikan dapat mencapai tujuan belajar. Pada akhirnya, para pendidik diarahkan untuk menghadirkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Gagal paham atau gagal fokus dapat terbentuk kalau kita tidak memahami tabiat manusia, tabiat ilmu dan mengambil pemikiran (konsep, definisi dan kerangka berpikir – cara pandang). Kemudian gagal fokus karenanya. Misal saat belajar kadang membosankan lalu dibuat menyenangkan dengan permainan, menyanyi dan ice breaking lainnya kemudian disebut belajar menyenangkan. Apa yang menyenangkan? Bermain atau belajarnya. Lambat laun siswa hanya akan bersemangat belajar jika diberi stimulus preteaching seperti permainan, musik dan hal-hal menyenangkan. Ia akan mulai bosan, mudah mengeluhkan guru yang tidak asyik mengajar hanya karena tidak merasa senang. Bahkan permainan juga bisa membuat bosan karena mungkin sudah terbiasa, sudah pernah dan kurang seru.

Allah SWT berfirman:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: Ayat 19)

Al Quran menggambarkan berbagai tabiat manusia salah satunya suka berkeluh kesah. Jika manusia mendapatkan kesenangan, kenikmatan dan kebaikan maka ia akan kikir agar semua itu tetap ia rasakan dan miliki. Tetapi jika ia mendapatkan kesusahan, kepayahan dan suasana yang tidak enak maka ia akan berkeluh kesah. Inilah watak asli manusia. Bagaimana mungkin ilmu dan pendidikan yang seharusnya mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik kemudian harus mengikuti keinginan manusia yang beragam. Bahkan dorongan ini adalah keinginan manusia yang mudah bosan dan berkeluh kesah.

Nasehat Imam Syafi’i tentang orang yang ingin menuntut ilmu diantaranya memiliki kecerdasan, kemauan (semangat – rakus akan ilmu), sabar, biaya (pengorbanan materi/waktu), bimbingan guru dan waktu yang panjang. Kemauan, semangat dan sabar menunjukkan ilmu itu memang membutuhkan dorongan jiwa yang baik dan positif. Bukan dorongan hawa nafsu dan keinginan jiwa pada dunia. Sedangkan dunia adalah permainan dan kesenangan yang semu dan sebentar. Untuk memiliki ilmu dengan kesabaran dan semangat yang terjaga dibutuhkan bimbingan tepat melalui sang guru. Murid belajar agar ia dapat menuntut ilmu dengan melatih tabiat aslinya menjadi lebih baik. Bukan guru yang mengikuti kemauan muridnya. Karenanya butuh kemauan, semangat, pengorbanan, sabar dan waktu yang panjang agar jiwa pencinta ilmu hadir dalam diri manusia yang mudah bosan, mengeluh dan lalai (lupa).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Dengan apa engkau mendapatkan ilmu?”. Dia menjawab, “Dengan lisan yang banyak bertanya, hati yang selalu berfikir dan badan yang tak kenal lelah”. (Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Mungkin inilah sebabnya generasi muda kita saat ini menurun kualitas akhlaknya, kurang adab terhadap guru dan orang tua serta serentetan problematika remaja lainnya. Ia tidak diajarkan untuk belajar adab dan cara menuntut ilmu. Tidak mengenal tabiat dan jalan para pencari ilmu. Bahkan ia tidak mengenal jiwa dan karakter pribadi yang kurang baik kemudian belajar memperbaikinya. Anak-anak terbiasa dipuaskan hasrat dan dahaga jiwanya. Hawa nafsunya dipenuhi agar ia tenang dan mau mendengar pelajaran. Padahal rasa bosan, malas dan dorongan hawa nafsu lainnya merupakan rintangan besar yang perlu ia kenal, mengerti dan dikendalikan. Agar ia memiliki kesabaran dan ketahanan demi meniti jalan pendidikan yang panjang, berdaki (semakin bertingkat) dan melelahkan.

Adakah pelajaran yang menyenangkan?

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَـفْرَحُوْا ؕ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: Ayat 58)

Melalui ayat diatas, Allah subhanahu wata’ala memberi sinyal atau tanda agar manusia bergembira karena karunia dan rahmat Allah. Manusia hendaknya bergembira karena Allah telah menurunkan Al Quran sebagai pelajaran. Ia sebagai sumber ilmu, materi dan strategi belajar (kisah, dialog, amtsal dan sebagainya). Selain mendapatkan pelajaran melalui Al Quran, Allah juga memberi tambahan yakni penyembuh untuk hati, petunjuk dan rahmat. Bukankah rasa bosan, jenuh, senang dan gembira itu buah dari hati manusia? Inilah penyembuhnya. Ia pelajaran sekaligus menyembuhkan penyakit-penyakit dalam dada. Bukan sekadar nutrisi otak dan hapalan ilmu atau teori belaka. Pelajaran sekaligus perbaikan karakter yang dipengaruhi kondisi jiwa dan hatinya.

Belajar memang harus menyenangkan, bukan? Semoga Allah memberi karunia dan rahmatNya agar anak-anak kita bergembira dan senang dalam mempelajari ilmu-ilmuNya.

Wallahu a’lam.

Ya Allah bimbinglah kami.

Ustadz Surya Firdaus

Guru Kelas Iman Qonuni 3 Ikhwan Kuttab AL Fatih Pusat

Share this:
Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)14Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)14Klik untuk berbagi via Google+(Membuka di jendela yang baru)
Navigasi pos
CARA PEMIMPIN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH
Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

Nama *

Surel *

Situs Web

Beritahu saya akan tindak lanjut komentar melalui surel.

Beritahu saya akan tulisan baru melalui surel.

Recent Posts

BELAJAR HARUS “MENYENANGKAN” Oktober 26, 2016
CARA PEMIMPIN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH Oktober 25, 2016
JANGAN JADI GENERASI SUMBU KOMPOR Oktober 24, 2016
DAYA TARIK GURU Oktober 23, 2016
FIRASAT IMAM SYAFI’I Oktober 20, 2016
Hak Cipta © 2016 Kuttab Al-Fatih. Tema: ColorNews oleh ThemeGrill. Dipersembahkan oleh WordPress.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s