Cahaya Duka di Syi’ib

Cahaya Duka di Syi’ib
Tangis bayi, wanita lemah, orang tua yang terlihat payah.

Sudah sangat lama mereka kesulitan hanya sekadar makan dan minum.

Mereka mulai mencari rerumputan. Tapi apa yang bisa didapat dari rerumputan yang tumbuh di gunung berbatu.

Hanya rumput-rumput kecil yang berduri.

Sebagian sudah mengeluhkan mulutnya yang rusak karena makanan itu.
Hanya sekali waktu ada orang iba terhadap mereka dan diam-diam mengirimkan makanan di atas punggung unta yang dipukul pantatnya agar bergerak sendiri ke tempat mereka.
Bukan karena tidak punya makanan. Tetapi mereka dikepung pemboikotan dzolim.

Pemboikotan yang paling aneh sampai hari ini.

Hari ini pemboikotan pun masih terjadi untuk beberapa negara. Tetapi hanya pemboikotan senjata atau bisnis.

Adapun pemboikotan yang satu ini, sampai dilarang menikah dengan mereka.

Dilarang duduk-duduk dengan mereka. Membengkaknya keangkuhan hingga titik kritis.
3 tahun. Jelas lama untuk sebuah kesengsaraan hidup. Tetapi sebentar, jika kita tahu bahwa justru di ujung 3 itu adalah awal cahaya untuk kemenangan besar.

Kader yang ada semakin teruji dan solid pada keadaan apapun.

Dan mendapatkan kader baru yang hanya perlu waktu 3 tahun berikutnya untuk mendapatkan kota peradaban.
Ya, itu pemboikotan di zaman Rasulullah dan para sahabat.

Di Syi’ib (celah di antara gunung) Abi Thalib. Muslimin, Bani Hasyim dan Bani Muthalib harus menyingkir ke syi’ib itu.
(Celah itu ada di gunung yang terlihat ini, yang posisinya ada di sekitar Marwah).
#sapaharomain

#BudiAshari

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s