Ketika Hafalan Perlahan Hilang

​Ketika Hafalan Perlahan Hilang

Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an.

.

Teringat akan wejangan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan).

.

Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.

.

Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan.

.

Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih?

Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks.

.

Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan.

.

Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita.

.

Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya.

Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

.

Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.

.

.

#tepuk dada tanya iman..

Lalu bagaimana hafalan kita? :”)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Ketika Hafalan Perlahan Hilang

​Ketika Hafalan Perlahan Hilang

Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an.

.

Teringat akan wejangan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan).

.

Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.

.

Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan.

.

Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih?

Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks.

.

Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan.

.

Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita.

.

Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya.

Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

.

Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.

.

.

#tepuk dada tanya iman..

Lalu bagaimana hafalan kita? :”)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Hafidzah itu proyek seumur hidup !

​”Hafidzah itu proyek hidup!” 
Bentakku dalam hati pada diri sendiri. Tatkala menyelesaikan setoran namun lisan terbata tak lancar-lancar. Ditegur Hoca (dosen) sebab ayat-ayat lupa kurang diulang ulang akhirnya diayat yg sama berputar-putar. 

Teringat Syaikh Sudais yg sempat lupa satu ayat, jiwaku kembali bangkit bahwa tiada yg sempurna melainkan perjuangan penuh pengorbanan.
 “Hafidzah itu proyek hidup!”

Ku katakan, ketika sahabat futur, tak mau lanjutkan hafalan. Katanya, sering mandeg dan tak ada waktu tuk menambah dan ulang hafalan. Bukankah sebenarnya kita yg sering cari alasan? Alasan alasan tak jumpa Al quran, lalu hanya gunakan waktu sisaan tuk bercengkrama dengannya penuh ketenangan? Layakkah kita memberikan waktu sisa utk Quran? 
“Hafidzah itu proyek hidup! ” 

ku semangati sahabat, ketika tak kunjung kuat hafalan namun usia terus berputar penghabisan. Hafalan itu kita perjuangkan seumur hidup, kita ulang seumur waktu, kita tanam sedalam qalbu. Bukan sehari hafal, atau sebulan hafal, setahun hafal. Tapi kita ulang ulang, bahkan tiada berkehabisan. 
“Hafidzah itu proyek hidup!”

Ada org yg setahun hafal, dua tahun hafal bahkan 30 hari hafal. Tapi bukan cepat atau waktu hafal, hafidz/ah adalah ttg kau menjaganya sepanjang zaman, setegar jiwa. Menghapalnya dalam kesulitan dan kemudahan. 
Hafidzah itu proyek hidup!

Kala muda kala tua. Tak pandang usia, terpenting kau memulai, menjaga dan bersemangat bersamanya. Tak peduli kau jatuh, lupa, tertinggal.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

taujih

​Taujih ust Abd Aziz Abd Ro’uf, Lc, Alhafizh,

Jum’at, 26 -08-2016

(وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا)
(يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا)

[Surat An-Nisa’ 27 -28]
Aslinya manusia itu lemah, apalagi mau menghafal Al Qur’an, secara akal manusia itu tdk mampu, tetapi Allah menjelaskan diriNyalah yg menurunkan dan mengajarkan Al Qur’an
(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الرَّحْمَٰنُ * عَلَّمَ الْقُرْآنَ)

[Surat Ar-Rahman 1 – 2]

(اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ)

[Surat Az-Zumar 23]
Maka untuk mengatasi kelemahan kita dalam menghafal, ada beberapa hal yg harus kita lakukan: 

1. Perbanyak istighfar

(وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ)

[Surat Hud 52]

Rasulullah yg ma’sum sama beristighfar min 100x sehari, apalgi kita manusia yg banyak salah dan dosa, maka istighfar setidaknya 1000x
2. Perbanyak do’a

(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ)

[Surat Al-Baqarah 186]
3.  jangan bosan beramal

(وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ)

[Surat Aal-E-Imran 146]
(وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ)

[Surat Aal-E-Imran 147]
Maka Allah janjikan bagi mereka kesuksesan di dunia & balasan terbaik di akhirat

(فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ)

[Surat Aal-E-Imran 148]
Ditulis oleh

” Achmarul Hadi”

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Istighfar

​ISTIGHFAR

••••••••••••••••••••••••••
Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;
Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.
Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;

Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.
Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain  disini, syaikh?.”
———– Penjelasan ————-
Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan:

1⃣bisa untuk orang tua, 2⃣orang kaya ataupun 3⃣orang yg berilmu. 

Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.

———————————
Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. 
Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar & ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih & zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.
Imam Ahmad menjawab,  “Saya ingin istirahat, saya musafir.”

Kata marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”
Imam Ahmad bercerita,

“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”
Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot. 

“Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad.
Lalu marbot berkata;

“Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “saya didorong-dorong sampai jalanan.”
Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat & menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. 
Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”
Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yg sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).
Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan ISTIGHFAR. “Astaghfirullah”
Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur astaghfirullah,  mencampur gandum astaghfirullah. Dia senantiasa mengucapkan istighfar.  Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.
Lalu imam Ahmad bertanya, “sudah berapa lama kamu lakukan ini?”
Orang itu menjawab; 

“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”

 

Imam Ahmad bertanya;

“Apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab;

“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yg saya minta, kecuali PASTI dikabulkan Allah. semua yg saya minta ya Allah…., langsung diwujudkan.”
Rasulullah

 صلى الله عليه وسلم 

pernah bersabda;
“Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya.”
Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yg belum Allah beri.”
Imam Ahmad penasaran lantas bertanya;

“Apa itu?”
Kata orang itu;

“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.”
Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, 

“Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan – sampai didorong-dorong oleh marbot masjid – Sampai ke jalanan ternyata karena ISTIGHFARMU.”
Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yg didepannya adalah Imam Ahmad.
Ia pun langsung memeluk & mencium tangan Imam Ahmad.
(SUMBER: Kitab Manakib Imam Ahmad)
Wallohu a’lam
Saudaraku & Sahabatku tercinta….. Mulai detik ini – marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan ISTIGHFAR – kapanpun dan di manapun kita berada.
———————–
…dan JANGAN SAMPAI ilmu yang SANGAT PENTING ini TIDAK DI-AMALKAN OLEH MASING-MASING DIRI KITA
Semoga Alloh merohmati kita semua, Aamiin
NB. Gambar ilustrasi….

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Bahagia bersama Al Qur’an

​TAUJIH QURANI

0025/TQ/BK

==============
Bahagia 

Bersama AL QUR’AN 

harus diraih dengan 

“Sengsara” (mujahadah)

==============
Allah ﷻ berfirman :
ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ 
 طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ
“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah (sengsara).”

(QS. Thahaa : 2) 
Ayat di atas pengertian secara implisitnya bahwa AL QUR’AN diturunkan di muka bumi ini adalah agar manusia dapat meraih kebahagiaan.
Mengapa Allah ﷻ  tidak menyebut langsung dengan ungkapan :”Kami turunkan Al Qur’an ini agar kamu bahagia.”?
Selain menunjukkan  keindahan, kesantunan dan cita rasa yang sangat tinggi dari bahasa Al Qur’an. Ayat di atas mengandung makna yang sangat relevan  dengan kenyataan kehidupan manusia yang telah mengenal Al Qur’an dan mencintai Al Qur’an.
*Siapa saja yang ingin bahagia bersama Al Qur’an, maka dirinya harus siap untuk “sengsara” (MUJAHADAH) dengan Al Qur’an.*

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.(al insan ; 24)
Untuk dapat meraih bahagia bersama Al Qur’an, maka seorang Mukmin harus :
1. “Sengsara” secara mental dan fisik.
Dalam arti harus tahan dalam kondisi yang orang lain bisa jadi akan merasa sulit dan sengsara dalam menjalaninya. 
Karena bukan sesuatu yang ringan dan mudah menegakkan disiplin diri saat harus membacanya, menghafalnya, muroja’ah (mereview hafalannya), mengkaji tafsir dan seterusnya. 
Yang mana semua bentuk interaksi tersebut harus dijalaninya dalam durasi waktu yang tidak sebentar dan harus bersifat permanen – ditetapkan sebagai agenda rutin disepanjang hidupnya.

 

Karenanya tentu Al Qur’an tidak akan menarik bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan disiplin dan konsistensi diri dalam aktivitas diatas. Bahkan baginya merupakan sesuatu yang berat dan menyengsarakan.
Sedangkan kebahagiaan bersama Al Qur’an akan sulit diraih oleh mereka yang minim perhatiannya terjadap Al Qur’an, termasuk mereka yang pelit waktu dalam interaksi dengan Al Qur’an.
Untuk menjadi Ahlul Qur’an harus ditempuh dengan harga yang mahal, butuh ketahanan mental dalam menjaga istiqomah diri saat berlama-lama bersama Al Qur’an, hingga ia menemukan kenikmatan yang tidak dapat digambarkan secara nyata tetapi dapat dirasakan dalam bentuk kepuasan ruhiyah yang tiada terkira. Inilah diantara buah kebahagiaan saat bersama Al Qur’an.
2. “Sengsara” karena secara otomatis harus siap melaksanakan semua Syariat Allah ﷻ . 
Tanpa kesiapan melaksanakan Syariat Allah ﷻ seperti sholat 5 waktu, shiyam, zakat dst, maka seseorang tidak akan mungkin dapat menikmati Al Qur’an.
3. “Sengsara” dalam menjaga diri dari maksiat. 
Diantara perjuangan ruhiyah agar bisa dekat dan merasakan nikmatnya dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah perjuangan lahir dan bathin untuk menghindar dari segala maksiat, baik besar maupun maksiat yang kecil.
Karena Al Qur’an tidak akan merespon pembacanya yang masih suka melakukan maksiat.
Hal ini harus selalu menjadi perhatian yang serius bagi para pemburu kebahagiaan  bersama Al Qur’an – bersabar dari berbuat maksiat serta menjaga diri dari segala yang menyeret dirinya dalam kehinaan.  
Karena itu perlu membangun sistem yang mampu menjadi penjaga kesucian dirinya, diantaranya dengan melazimkan istighfar.
4. “Sengsara” dalam menegakkan Ibadah Malam.
Membangun kebiasaan diri untuk berjaga dimalam hari untuk dzikir dan ibadah kepada Allah ﷻ tentu merupakan suatu aktivitas yang sangat berat dan menyengsarakan. 
Hal diatas adalah suatu amal yang sangat dituntut bagi para pemburu kebahagiaan Al Qur’an. 
Dan tentu tidak akan pernah menarik bahkan menyengsarakan bagi seseorang tidak mengenal Al Qur’an dan tidak mendambakan terjalinnya kedekatan dengan Al Qur’an, karena itu tidur banyak lebih ia sukai.
5. “Sengsara” dalam melaksanakan isinya. 
Al Qur’an tidak akan memberikan hasil tadabbur dan inspirasi yang maksimal bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan untuk mengamalkan isi dan kandungan (perintah serta larangan) yang ada di dalamnya.
6. “Sengsara” di dalam mendakwahkan dan memperjuangkan Al Qur’an. 
Ketika seorang mencintai Al Qur’an maka Allah ﷻ akan memberikan ilham kepadanya untuk memiliki dorongan kuat untuk mendakwahkannya. 
Mendakwahkan baik isi kandungan Al Qur’an, mendakwahkan bagaimana cara membacanya sesuai dengan kaidah yang benar, ataupun mendakwahkannya dalam pengertian syi’ar yang lebih luas lagi, termasuk membelanya ketika ada yang mencelanya. 

Upaya perjuangan diatas tentu akan diakrabi dengan berbagai rintangan dan kendala. Apalagi saat masyarakat masih sangat minim penerimaannya terhadap Al Qur’an baik secara ruhiyah, jasmaniyah maupun fikriyahnya.
Seseorang yang hidupnya tidak terlibat dalam memperjuangkan Al Qur’an, maka ia tidak akan pernah merasakan Ruh Al Qur’an bersamanya.
7. “Sengsara” dalam mengajarkan Al Qur’an kepada umat. 
Pada dasarnya tanpa diajarkan, maka manusia tidak akan merasakan zhaugh dan nilai-nilai ilmiah yang terkandung di dalam Al Qur’an.
Karena itu akan sulit jika diharapkan seseorang dengan serta merta siap menjadi pendukung dan pembela Al Qur’an.
Disinilah peran utama yang harus difahami oleh para pencinta Al Qur’an saat harus terjun memberikan pengajaran kepada umat. 
Tidak sebatas mengajarkan bagaimana cara membacanya saja, tetapi harus terus melakukan proses peningkatan menuju langkah-langkah bagaimana memahamkan umat sehingga terbangun secara sistematis rasa cintanya kepada Al Qur’an. 
Ketika rasa cinta terhadap Al Qur’an sudah tumbuh subur dihati seorang muslim, pada giliranya akan mudah diharapkan untuk melaksanakan kandungan  ajarannya.
8. “Sengsara” dalam istiqomah bersama Al Qur’an. 
Tanpa azzam untuk istiqomah bersama Al Qur’an, sulit seseorang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dari segala bentuk interaksinya dengan Al Qur’an. 
Kebahagiaan bersama Al Qur’an harus diraih dengan perjuangan yang mahal, yang berat, karena itu butuh kesungguhan dan tekad untuk istiqomah. 
Istiqomah ini akan mudah dilihat saat sang pendamba kebahagiaan itu diuji keimanannya oleh Allah ﷻ.
Apakah ujian yang sifatnya duniawi maupun ujian yang sifatnya membutuhkan keteguhan jiwa dalam mempertahankan keselamatan dan kemuliaan ukhrowinya, misal terkait ujian ibadah. 
9. “Sengsara” dalam melaksanakan jihad yang merupakan salah satu perintah yang ada di dalam Al Qur’an.
Jihad merupakan perintah yang jelas yang telah disebutkan di dalam Al Qur’an. 
Untuk melaksanakan perintah jihad sesuai dengan konsep jihad yang dikehendaki Allah ﷻ bukanlah perkara yang mudah. 
Sedangkan para pecinta Al Qur’an harus siap melaksanakan perintah jihad sebagai bentuk kepatuhan dan ketundukkannya kepada Al Qur’an.
Adapun mengapa Allah ﷻ mensyari’atkan Jihad di dalam Al Qur’an ? 
Karena tanpa jihad, umat Islam tidak akan mendapatkan izzahnya. Inilah jawaban prinsip yang menjadi alasan perintah jihad. 
10. “Sengsara dalam mengorbankan semua yang dicintainya untuk Allah ﷻ.
Aslinya tabiat manusia adalah cinta terhadap harta dan enggan bersusah payah (dalam hal apa saja). 
Hal ini banyak dibahas oleh Al Qur’an.  
Kecintaan terhadap harta dan jiwa harus menjadi suatu kewasapadaan bagi para pencinta Al Qur’an jika ingin dirinya senantiasa meraih kebahagiaan bersama Al Qur’an.
Karena cinta terhadap keduanya (harta dan jiwa) dapat mengikis bahkan memusnahkan rasa cintanya terhadap Al Qur’an. 
Oleh karena itu perlu perjuangan jiwa dan raga untuk siap melakukan pengorbanan demi melaksanakan isi Al Qur’an secara seutuhnya. Jauhkan bisikan-bisikan cinta terhadap harta dunia serta siapkan raga untuk bermujahadah bersama Al Qur’an. 
Demikianlah kiranya diantara rahasia mengapa Allah ﷻ ungkapkan dengan kata “لِتَشْقَىٰ – sengsara” dalam ayat di atas. 
Bersambung ke Comment
menbenAllahpernah

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Apakah engkau merindukannya?

​Bismillah
هل حقا تشتاق اليه  ترجوان تسقى بيديه

ارغم انف الظلم عليه  هل صليت اليوم عليه
Apakah engkau serius merindukannya?
Berharap pada hari qiyamat diberi minum dari tangannya

Celakalah orang yang menyakitinya

Apakah hari ini engkau telah bersholawat kepadanya?

(Syair asyaikh Abdullah Kamil )

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar