Bahagia bersama Al Qur’an

​TAUJIH QURANI

0025/TQ/BK

==============
Bahagia 

Bersama AL QUR’AN 

harus diraih dengan 

“Sengsara” (mujahadah)

==============
Allah ﷻ berfirman :
ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ 
 طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ
“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah (sengsara).”

(QS. Thahaa : 2) 
Ayat di atas pengertian secara implisitnya bahwa AL QUR’AN diturunkan di muka bumi ini adalah agar manusia dapat meraih kebahagiaan.
Mengapa Allah ﷻ  tidak menyebut langsung dengan ungkapan :”Kami turunkan Al Qur’an ini agar kamu bahagia.”?
Selain menunjukkan  keindahan, kesantunan dan cita rasa yang sangat tinggi dari bahasa Al Qur’an. Ayat di atas mengandung makna yang sangat relevan  dengan kenyataan kehidupan manusia yang telah mengenal Al Qur’an dan mencintai Al Qur’an.
*Siapa saja yang ingin bahagia bersama Al Qur’an, maka dirinya harus siap untuk “sengsara” (MUJAHADAH) dengan Al Qur’an.*

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.(al insan ; 24)
Untuk dapat meraih bahagia bersama Al Qur’an, maka seorang Mukmin harus :
1. “Sengsara” secara mental dan fisik.
Dalam arti harus tahan dalam kondisi yang orang lain bisa jadi akan merasa sulit dan sengsara dalam menjalaninya. 
Karena bukan sesuatu yang ringan dan mudah menegakkan disiplin diri saat harus membacanya, menghafalnya, muroja’ah (mereview hafalannya), mengkaji tafsir dan seterusnya. 
Yang mana semua bentuk interaksi tersebut harus dijalaninya dalam durasi waktu yang tidak sebentar dan harus bersifat permanen – ditetapkan sebagai agenda rutin disepanjang hidupnya.

 

Karenanya tentu Al Qur’an tidak akan menarik bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan disiplin dan konsistensi diri dalam aktivitas diatas. Bahkan baginya merupakan sesuatu yang berat dan menyengsarakan.
Sedangkan kebahagiaan bersama Al Qur’an akan sulit diraih oleh mereka yang minim perhatiannya terjadap Al Qur’an, termasuk mereka yang pelit waktu dalam interaksi dengan Al Qur’an.
Untuk menjadi Ahlul Qur’an harus ditempuh dengan harga yang mahal, butuh ketahanan mental dalam menjaga istiqomah diri saat berlama-lama bersama Al Qur’an, hingga ia menemukan kenikmatan yang tidak dapat digambarkan secara nyata tetapi dapat dirasakan dalam bentuk kepuasan ruhiyah yang tiada terkira. Inilah diantara buah kebahagiaan saat bersama Al Qur’an.
2. “Sengsara” karena secara otomatis harus siap melaksanakan semua Syariat Allah ﷻ . 
Tanpa kesiapan melaksanakan Syariat Allah ﷻ seperti sholat 5 waktu, shiyam, zakat dst, maka seseorang tidak akan mungkin dapat menikmati Al Qur’an.
3. “Sengsara” dalam menjaga diri dari maksiat. 
Diantara perjuangan ruhiyah agar bisa dekat dan merasakan nikmatnya dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah perjuangan lahir dan bathin untuk menghindar dari segala maksiat, baik besar maupun maksiat yang kecil.
Karena Al Qur’an tidak akan merespon pembacanya yang masih suka melakukan maksiat.
Hal ini harus selalu menjadi perhatian yang serius bagi para pemburu kebahagiaan  bersama Al Qur’an – bersabar dari berbuat maksiat serta menjaga diri dari segala yang menyeret dirinya dalam kehinaan.  
Karena itu perlu membangun sistem yang mampu menjadi penjaga kesucian dirinya, diantaranya dengan melazimkan istighfar.
4. “Sengsara” dalam menegakkan Ibadah Malam.
Membangun kebiasaan diri untuk berjaga dimalam hari untuk dzikir dan ibadah kepada Allah ﷻ tentu merupakan suatu aktivitas yang sangat berat dan menyengsarakan. 
Hal diatas adalah suatu amal yang sangat dituntut bagi para pemburu kebahagiaan Al Qur’an. 
Dan tentu tidak akan pernah menarik bahkan menyengsarakan bagi seseorang tidak mengenal Al Qur’an dan tidak mendambakan terjalinnya kedekatan dengan Al Qur’an, karena itu tidur banyak lebih ia sukai.
5. “Sengsara” dalam melaksanakan isinya. 
Al Qur’an tidak akan memberikan hasil tadabbur dan inspirasi yang maksimal bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan untuk mengamalkan isi dan kandungan (perintah serta larangan) yang ada di dalamnya.
6. “Sengsara” di dalam mendakwahkan dan memperjuangkan Al Qur’an. 
Ketika seorang mencintai Al Qur’an maka Allah ﷻ akan memberikan ilham kepadanya untuk memiliki dorongan kuat untuk mendakwahkannya. 
Mendakwahkan baik isi kandungan Al Qur’an, mendakwahkan bagaimana cara membacanya sesuai dengan kaidah yang benar, ataupun mendakwahkannya dalam pengertian syi’ar yang lebih luas lagi, termasuk membelanya ketika ada yang mencelanya. 

Upaya perjuangan diatas tentu akan diakrabi dengan berbagai rintangan dan kendala. Apalagi saat masyarakat masih sangat minim penerimaannya terhadap Al Qur’an baik secara ruhiyah, jasmaniyah maupun fikriyahnya.
Seseorang yang hidupnya tidak terlibat dalam memperjuangkan Al Qur’an, maka ia tidak akan pernah merasakan Ruh Al Qur’an bersamanya.
7. “Sengsara” dalam mengajarkan Al Qur’an kepada umat. 
Pada dasarnya tanpa diajarkan, maka manusia tidak akan merasakan zhaugh dan nilai-nilai ilmiah yang terkandung di dalam Al Qur’an.
Karena itu akan sulit jika diharapkan seseorang dengan serta merta siap menjadi pendukung dan pembela Al Qur’an.
Disinilah peran utama yang harus difahami oleh para pencinta Al Qur’an saat harus terjun memberikan pengajaran kepada umat. 
Tidak sebatas mengajarkan bagaimana cara membacanya saja, tetapi harus terus melakukan proses peningkatan menuju langkah-langkah bagaimana memahamkan umat sehingga terbangun secara sistematis rasa cintanya kepada Al Qur’an. 
Ketika rasa cinta terhadap Al Qur’an sudah tumbuh subur dihati seorang muslim, pada giliranya akan mudah diharapkan untuk melaksanakan kandungan  ajarannya.
8. “Sengsara” dalam istiqomah bersama Al Qur’an. 
Tanpa azzam untuk istiqomah bersama Al Qur’an, sulit seseorang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dari segala bentuk interaksinya dengan Al Qur’an. 
Kebahagiaan bersama Al Qur’an harus diraih dengan perjuangan yang mahal, yang berat, karena itu butuh kesungguhan dan tekad untuk istiqomah. 
Istiqomah ini akan mudah dilihat saat sang pendamba kebahagiaan itu diuji keimanannya oleh Allah ﷻ.
Apakah ujian yang sifatnya duniawi maupun ujian yang sifatnya membutuhkan keteguhan jiwa dalam mempertahankan keselamatan dan kemuliaan ukhrowinya, misal terkait ujian ibadah. 
9. “Sengsara” dalam melaksanakan jihad yang merupakan salah satu perintah yang ada di dalam Al Qur’an.
Jihad merupakan perintah yang jelas yang telah disebutkan di dalam Al Qur’an. 
Untuk melaksanakan perintah jihad sesuai dengan konsep jihad yang dikehendaki Allah ﷻ bukanlah perkara yang mudah. 
Sedangkan para pecinta Al Qur’an harus siap melaksanakan perintah jihad sebagai bentuk kepatuhan dan ketundukkannya kepada Al Qur’an.
Adapun mengapa Allah ﷻ mensyari’atkan Jihad di dalam Al Qur’an ? 
Karena tanpa jihad, umat Islam tidak akan mendapatkan izzahnya. Inilah jawaban prinsip yang menjadi alasan perintah jihad. 
10. “Sengsara dalam mengorbankan semua yang dicintainya untuk Allah ﷻ.
Aslinya tabiat manusia adalah cinta terhadap harta dan enggan bersusah payah (dalam hal apa saja). 
Hal ini banyak dibahas oleh Al Qur’an.  
Kecintaan terhadap harta dan jiwa harus menjadi suatu kewasapadaan bagi para pencinta Al Qur’an jika ingin dirinya senantiasa meraih kebahagiaan bersama Al Qur’an.
Karena cinta terhadap keduanya (harta dan jiwa) dapat mengikis bahkan memusnahkan rasa cintanya terhadap Al Qur’an. 
Oleh karena itu perlu perjuangan jiwa dan raga untuk siap melakukan pengorbanan demi melaksanakan isi Al Qur’an secara seutuhnya. Jauhkan bisikan-bisikan cinta terhadap harta dunia serta siapkan raga untuk bermujahadah bersama Al Qur’an. 
Demikianlah kiranya diantara rahasia mengapa Allah ﷻ ungkapkan dengan kata “لِتَشْقَىٰ – sengsara” dalam ayat di atas. 
Bersambung ke Comment
menbenAllahpernah

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s